Gagasan Awal
Sejumlah mahasiswa Katolik di Palembang mulai menggagas pembentukan PMKRI Cabang Palembang sebagai wadah mahasiswa Katolik yang terorganisir.
Wadah pembinaan dan perjuangan mahasiswa Katolik yang bertumbuh bersama Gereja, masyarakat, dan bangsa dengan semangat Pro Ecclesia Et Patria.
Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia merupakan organisasi pembinaan dan perjuangan mahasiswa Katolik yang berlandaskan Pancasila, dijiwai nilai kekatolikan, dan disemangati kehidupan kemahasiswaan.
Di Palembang, PMKRI hadir sebagai ruang bagi mahasiswa untuk mengembangkan karakter, kemampuan intelektual, kepemimpinan, persaudaraan, serta kepedulian terhadap persoalan sosial.
Cabang Palembang menggunakan nama pelindung St. Beda Yang Tekun dan membawa semangat Pro Ecclesia Et Patria, bagi Gereja dan Tanah Air.
Cabang
Palembang
Pelindung
St. Beda Yang Tekun
Semangat
Pro Ecclesia Et Patria
Perjalanan panjang yang membentuk PMKRI Cabang Palembang hingga terus bertumbuh sebagai ruang pembinaan mahasiswa Katolik.
Sejumlah mahasiswa Katolik di Palembang mulai menggagas pembentukan PMKRI Cabang Palembang sebagai wadah mahasiswa Katolik yang terorganisir.
Pada 5 September 1963, PMKRI Cabang Palembang dinyatakan berdiri dan mulai menjalankan aktivitas organisasi.
Aktivitas cabang mengalami kemunduran hingga keputusan Kongres/MPA menetapkan DPC PMKRI Cabang Palembang dalam kondisi nonaktif.
Setelah proses konsolidasi dan pembentukan kembali sejak akhir 1970-an, Kongres/MPA 1981 mencabut pembekuan dan mengaktifkan kembali PMKRI Cabang Palembang.
Terwujudnya keadilan sosial, kemanusiaan, dan persaudaraan sejati dalam kehidupan Gereja, masyarakat, dan bangsa.
Berjuang dan terlibat dalam kehidupan masyarakat melalui proses kaderisasi intelektual yang dijiwai nilai-nilai kekatolikan untuk menghadirkan keadilan, kemanusiaan, dan persaudaraan sejati.
Tiga nilai yang menjadi landasan pembinaan dan gerak kader PMKRI.
Semangat persaudaraan yang membangun hubungan saling menghargai, mendukung, dan bertumbuh bersama.
Menghidupi nilai kekatolikan dan menjadikan kasih, pelayanan, serta keberpihakan pada sesama sebagai dasar tindakan.
Tradisi berpikir kritis, analitis, dan bertanggung jawab dalam membaca persoalan serta mencari jalan keluar yang berpihak pada kemanusiaan.
Lambang dan atribut bukan sekadar pelengkap kegiatan. Masing-masing menjadi bagian dari identitas, tradisi, serta nilai perjuangan yang diwariskan dalam organisasi.
Digunakan sebagai identitas resmi dalam sidang dan kegiatan formal organisasi.
Atribut khas kader yang merepresentasikan keberanian dan komitmen terhadap Gereja serta Tanah Air.
Menjadi bagian dari atribut resmi dan identitas tanggung jawab dalam organisasi.